Photobucket

Thursday, October 01, 2009

Sony Alpha A900


MESKI belum termasuk kategori kamera DSLR high end, tapi Sony Alpha A900 ini sudah jauh lebih baik dari sekadar kamera DSLR kelas menengah. Orang menyebut kamera ini sebagai compact full-frame DSLR walaupun kalau dilihat dari bodinya, tidak ada sedikitpun kesan compact yang identik dengan kamera berukuran kecil. Tapi kalau sudah bicara soal kualitas, jangan remehkan kamera keluaran Sony ini. Sebagian besar bodi kamera ini dibuat dari aluminium meski ada beberapa bagian yang terbuat dari magnesium alloy. Sebagai akibatnya, kamera ini jadi terasa sangat kukuh saat digenggam. Walaupun bukan kamera dengan fitur rugged namun untuk sekadar mengimbangi aktivitas di luar ruangan para fotografer profesional, Sony Alpha A900 ini masih bisa diandalkan.
Walaupun Sony Alpha A900 ini adalah kamera buat para profesional tapi antarmuka yang disajikan cukup mudah dipahami dan tak perlu waktu terlalu lama untuk beradaptasi dengan kamera ini. Hanya karena mudah dipahami tidak berarti lantas kamera ini kehilangan taringnya. Pengaturan manual jelas masih disediakan dan memungkinkan pengguna menggali kreativitas dengan berbagai fitur yang disajikan.
Meski layar LCD seluas 3 inci tetap ada namun salah satu syarat wajib kamera DSLR adalah viewfinder. Dilengkapi dengan sensor yang secara otomatis mematikan layar LCD saat ada objek yang mendekati lubang viewfinder, viewfinder yang terpasang pada kamera ini punya kualitas yang mengagumkan. Selain itu, lubang bidik ini juga punya cakupan sampai 100 persen dari frame view.
Salah satu fitur andalan kamera ini adalah Dynamic Range Optimiser yang pertama kali diperkenalkan pada produk A100. Fitur ini secara otomatis akan menyesuaikan kurva tone dari gambar untuk mencapai hasil maksimal pada situasi dengan kontras yang tinggi. Hasilnya keseimbangan gambar jadi tetap terjaga. Area gelap tidak kehilangan detail sementara area yang terkena sinar tak jadi terlalu terang.
Berbekal Bionz image processor, Sony Alpha A900 ini menawarkan kemampuan mengambil gambar dalam kecepatan tinggi. Dalam pengaturan kualitas tertinggi sekalipun kamera ini masih sanggup mengambil gambar dengan kecepatan lima gambar dalam satu detik.
Sony pun tak lupa menyediakan slot kartu memori, bukan hanya satu tapi dua, untuk menampung hasil bidikan super cepat ini.
Soal kualitas hasil bidikan jelas tak usah lagi dipertanyakan. Selama Anda memadukannya dengan lensa yang sama handalnya, hasil bidikan akan terlihat sangat tajam dengan warna-warna yang alami. Noise pun hampir tak terlihat kecuali jika Anda menggunakan ISO 800 ke atas pada kamera DSLR yang dijual dengan harga Rp 27 juta ini.(bs)

source :
http://www.fajar.co.id/index.php?option=news&id=70228

SPESIFIKASI:

Sensor : 24.81 megapixel imaging sensor, 35mm full frame Exmor CMOS
Lens : Interchangeable A-mount
Zoom : -

Viewfinder : TTL, 0.74 x, Diopter -1m-1 100% coverage of 35 mm Full-frame area

LCD Monitor : 3.0" TFT Xtra Fine (921k pixels) LCD
Maximum Aperture : -
Shutter Speed : 1/8000 second - 30 seconds

White Balance : Auto, Daylight, Shade, Cloudy, Tungsten, Fluorescent, Flash
Flash : N/A
Shooting Modes : Single, Continuous
Photo Effects : -

Storage Media : CompactFlash, Memory Stick Duo
File Format : RAW, JPEG
Interfaces : USB, HDMI, A/V out
Dimension : 156.3 x 116.9 x 81.9mm

Final Regional 2009: Let’s Get Synchronoised

Fase I dan II telah dilewati. Serangkaian seleksi telah membuahkan nama-nama band yang berpotensi untuk masuk ke Fase III, yaitu Final Regional, dimana 24 band semifinalis dari 4 kota (Jakarta, Bandung, Jogjakarta dan Surabaya) akan kembali ’diadu’, yang nantinya menyisakan 10 band untuk mengisi Album Kompilasi L.A. LIGHTS INDIEFEST – Vol. 04.

“Akhirnya lebih dari 2700 cd demo yang masuk, kita sudah mendapatkan 24 band terbaik dari 4 regional. Mereka yang lolos ke final regional diarahkan untuk menunjukkan aksi panggungnya satu kali lagi dengan konsep yang lebih matang, menghibur, dan menyakinkan para penonton dan dewan juri, agar bisa masuk dalam Album Kompilasi L.A. Lights Indiefest – Vol. 04 2010,” ujar Diop Saputra, Project Officer L.A. LIGHTS INDIEFEST dari PT. Djarum.

Terpilihnya mereka sebagai semifinalis L.A. Lights Indiefest 2009 bukanlah keputusan yang mudah. Ada pula kriteria yang ditetapkan seperti konsep lagu dan aransemen, musikalitas dan kemampuan membawakan lagu secara live, dan yang terakhir adalah bagaimana mereka mempresentasikan konsep band yang diusung.

Menurut Adib Hidayat, Managing Editor Rolling Stone Indonesia dan Juri L.A. Lights Indiefest 2009, ada beberapa band yang out of the box dan tampil menawan, secara audio dan live performance.

“Saya melihat potensi dan nafas baru dari group band yang mengikuti festival ini. Penampilan mereka sangat berwarna, penuh dengan kreativitas dan ada kesempatan untuk dapat dikembangkan di Industri musik Indonesia,” ungkap Derry Laksmana, Artist & Repertoire Universal Music Indonesia.

Dari situ kita bisa melihat bahwa L.A. LIGHTS INDIEFEST 2009 konsisten pada tema Freedom of Expression dan Saatnya Lo Melek Musik! Hal ini dibuktikan dengan adanya berbagai macam aliran musik yang akan tampil di Final Regional nanti. [sp]

details events



source : http://lalightsindiefest.com

Photobucket